Isnin, 16 Oktober 2017

Review: THE SUSE “Demo // 2017”


The Suse is basically a young band, formed in the middle of 2015 but I must say, they have a lot of goodness, talent and potential. The band has recently released “Demo // 2017” available in limited CD-R and cassette tape format, and also through their bandcamp. It consists of 5 tracks, more than 6 minutes of raw and noise Hardcore. Listen to the demo is something like listening demos recorded in the 90s. It sounds truly old school and lots of honesty inside. The Suse got inspired by Black Flag, Sex Pistols, Dead Kennedys, Minor Threat and the likes but on other way, I thought the band just plays on their own. Respect given to this DIY hardcore/punk band from Sukoharjo, Indonesia. Check it out!

Interview: A LOT LIKE TURD


We play catchy, all over the place, yet easy listening as fuck songs. At least that’s what we think. We don’t really know how to play any musical instrument so we might actually sound like turd. – ungkapan ini dicatat pada pengenalan A LOT LIKE TURD di facebook mereka. Band yang dibarisi oleh Shidi Basri (vokal), Ameer Reza (dram), Iqmal Zolkefli (gitar), Farhan Abbas (gitar) dan Khairul Sabirin (bass) ini gemar mencampur-adukkan pelbagai genre; hardcore, thrash, rock & roll, punk dan sebagainya, dan mereka muzik mereka kedengaran amat chaos!! A Lot Like Turd baru-baru ini telah mengeluarkan rilisan ketiga mereka, “Self-Titled” dalam format tape pada 14 Oktober 2017 (sempena Cassette Store Day). Ikuti temubual bersama A Lot Like Turd untuk selanjutnya mengenai band ini.

Hello. Soalan pertama aku nak tanya apa yang dimaksudkan dengan nama band A Lot Like Turd tu?
Nama diberi oleh Ameer (drummer) sebab dia pandai dan kreatif di antara kami berlima, maksud nama band dalam bahasa “sebiji macam taik” nak diikutkan, kami main music pun macam taik. Tiada kelulusan atau kelas main music dan music pilihan kami pun bukan pada semua yang boleh menerimanya, sebab itu kami memilih nama itu.

Cerita ringkas tentang sejarah dan motif penubuhan band ni dan siapa line-up sekarang?
Pada tahun 2008 Shidi dan Ameer dalam UITM Perlis yang sama, mereka mendengar band dan genre yang sama pada ketika itu. Terdetik fikiran Shidi dan Ameer untuk buat satu band yang sama macam Heavy Heavy Low Low, setelah habis diploma 2010, Ameer dan Shidi decide untuk memanggil kawan Ameer iaitu Iqmal selaku guitarist The Sputnik ketika itu untuk menjadi bermain guitar A Lot Like Turd, setelah dua lagu dah siap (Shark Eat Shark More Shark dan Flashing Something Big) kiteorg pergi recording di Melaka, habis recording lepak minum di Alor Gajah, kebetulan Birin pun lepak sekali, alang-alang Birin ada kiteorg pun ajak dia untuk bermain bass. Setelah sekian lama lagu pun jadi banyak tapi kami tidak berpuas hati dengan bunyi yang hanya ada satu gitar sahaja, kebetulan juga, Paan baru berjinak-jinak dengan music hardcore ketika itu, Shidi pun mempelawa dia untuk menjadi guitarist yang kedua A Lot Like Turd. Kami tetap bersama dari 2010 sehingga sekarang tidak pernah tukar line-up.

Boleh jelaskan definasi terbaik untuk jenis muzik A Lot Like Turd dan contoh band-band yang banyak mempengaruhi penulisan lagu korang?
Kiteorg sendiri pun tak tahu kami ini dikategori genre yang mana, haha, tapi yang terbaik yang kami boleh bagi contoh Ialah Heavy Heavy Low Low, The Chariot, The Blood Brothers, dan kebanyakannya band-band dari label Three One G Records punya band, kiteorg buat lagu berdasarkan apa yang kami suka main dan dengar dan ia lebih kepada hardcore.

Setakat ni apa yang ALLT dah keluarkan? Bagi list diskografi korang.
6 Oktober 2012 – Colours Of Retardation EP (7 songs)
28 Februari 2015 – Disco Disco EP (6 songs)
14 Oktober 2017 – Alotliketurd / Self-titled (13 songs)


Apa agaknya tarikan utama produk terbaru korang tape “S/T” tu?
Tiada tarikan utama sebenarnya, tapi kami lebih menunjukkan A Lot Like Turd lebih serius dalam penulisannya, ada beberapa riff dan counting  kami tukar, dan seperti yang kami beritahu tadi, kami suka main dan dengar.

Apa persiapan yang telah ALLT lalui untuk keluarkan material tersebut (s/t tape)?
Kami record di Iseekmusic di Damansara, padahal kami berada di Seremban, setiap kali kami nak record kami perlu pergi ke sana, ia mengambil masa, tenaga dan duit untuk ke sana. Itu sahaja la persiapan yang kami buat, mental.. Shidi habis kerja selalunya pada pukul 12 malam, so dari 12 malam terus gerak ke Damansara, habis recording selalunya dalam pukul 4 atau 5 pagi, dan balik terus ke Seremban tiba pada pukul 7 pagi. Ia bukan mudah untuk kami.

Macamana boleh dapat kerjasama label Utarid Tapes dan Terr-Records untuk release tape tu?
Kami kenal taukey tu, dan kami rasa kami perlukan support dari mereka, kami pun buat proposal, dan akhirnya lulus. Haha!

Lirik lagu-lagu korang cakap pasal apa?
Kiteorg buat lirik tiada kena-mengena pada individu yang hidup atau mati, tiada kena-mengena pada politik dan isu semasa. Kami buat lirik berdasarkan fantasi, hentam keromo, paling tepat sekali ialah tangkap muat untuk menyedapkan lagu sahaja.


Korang ada rancangan untuk buat tour atau main gig mana-mana untuk promosi stuff baru korang ni?
Masih dalam perancangan, buat masa ni, tiada update apa-apa dahulu hanya rancang sahaja, masing-masing sibuk dengan hal keluarga, kerja dan masa.

Bagi pendapat sikit tentang scene muzik d.i.y kat negara kita ni?
Music d.i.y Malaysia sangat bagus-bagus, kreatif lain dari yang lain. Kami amat gemarkannya. Banyak pendedahan di luar negara, kami cukup bangga, kalau boleh kami pun nak macam mereka juga, tapi kami tak cukup power seperti mereka yang lain.

Last words lah kalau ada? Terima kasih.
Terima kasih pada Trashnoiser dari blogzine NOISE FROM HELL sudi interview kami, terima kasih pada kawan-kawan sentiasa memberi support dari awal penubuhan kami sampai sekarang. Kalau ada apa yang nak bertanya lagi kepada kami, sila la bertanya di facebook, terima kasih banyak-banyak.


Interview: THE SUSE


THE SUSE adalah band hardcore/punk dari Indonesia didokongi Gandung (Vocal), Muhsin (Guitar), Dian (Bass) dan Ronna (Drum). Nama “suse” itu diambil dari dua nama kota dan desa tempat asalnya mereka iaitu Sukoharjo dan Serenan, di Jawa Tengah. The Suse baru sahaja (bulan Oktober 2017 ini) merilis raw/noise demo format CD-R dan kaset; berisi 5 lagu, berdurasi 6:11 minit, semuanya diusahakan secara kolektif bersama teman-teman mereka. “Demo 2017” tidaklah begitu baik dari sudut sound quality, akan tetapi The Suse harus dilihat pada kejujuran karya dan penyampaiannya. Ayo dekati The Suse menerusi interview ini.

Apa khabar? Apa latest news dari The Suse?
Alhamdulilah kabar baik, kabar terbaru dari kami bulan ini kami merilis demo yang kami record dan produksi secara mandiri.

Gimana ya terbentuknya The Suse dan apa tujuan band ini ditubuhkan?
Kami terbentuk pada pertengahan 2015, dengan latar belakang band berbeda-beda. Misalkan, drummer kami Aronna dia juga mengisi drum di band lamanya Tackle Out Hc, trus ada vokal kami Gandung, dia pernah membuat band yang memainkan lagu-lagu dari Toxic Holocaust. Sedangkan saya (Dian) dan guitaris Muhsin pernah tergabung pada sebuah band metalcore Tendencies.


Apa motif pengeluaran “A Tribute to Ramones”?
Kebetulan kami semua suka Ramones, dan sudah jarang sekali band di Sukoharjo yang memainkan lagunya, jadi kita mainin lagi deh.

Terus The Suse tampil dengan “Demo 2017” berisi 5 original tracks. Bisa ceritain tentang song-writings & recordings demo tersebut?
Untuk penulisan lagu awalnya kami menulis lirik dulu, setelah itu baru guitaris kami (Muhsin) atau Gandung mencari riff riff guitar yang sekiranya pas dengan lirik. Setelah itu kami kembangkan lagi di studio bersama drum dan bass. Proses recording kami melakukan sendiri, dan mixing dibantu oleh teman kami yang dulu juga pernah se band dengan saya, Firman Widodo.

Gimana respon pendengar terhadap “Demo 2017”?
Belum banyak yang merespon, kalau menurut temen katanya Black Flag banget. padahal sih beda jauh. Hahaha!

Jelaskan dengan baik direksi musik The Suse? Band seperti apa yang memberi inspirasi kepada The Suse?
Awal terbentuk kami ingin memainkan musik band-band hc 80s seperti Black Flag, Minor Threat gitu. Seiring berjalannya waktu kami bermain se enaknya sendiri. Karena kami tidak hanya menyukai satu genre musik saja. Bahkan kami sangat open dengan berbagai jenis musik lain.

Emangnya kamu suka sound yang raw/noise?
Kami suka band-band dengan rekaman raw, menurut kami itu natural banget. Sekarang hampir semua band bermain bersih dan bagus, tapi kami belum bisa untuk itu. Skill kami pas-pas an.


Apa ya yang tertulis dan disampaikan menerusi lirik-lirik kalian?
Kebetulan saya yang menulis lirik pada dua lagu di demo ini, 3 lainnya ditulis oleh Gandung (Voc). Kalau lirik yang saya tulis itu di lagu Bad! But, I’m Happy menceritakan tentang ketika saya melakukan sesuatu yang menurut orang lain buruk, tapi tidak menurut saya dan saya senang melakukan hal itu. Hahaha.. Sedangkan lagu Can’t Be the Best itu tentang curhatan saya ketika banyak orang di sekitar saya mulai memikirkan dirinya sendiri dan lupa akan apa yang ada di sekitar mereka.
(G): Listen to Black Flag, itu karena kami suka sound hc 80s seperti Black Flag. Who Are They?! Lagu ini untuk mereka yang suka mengatur orang lain. Feelin’ Strange saya nggak tau artinya. Haahaha..

Ceritain tentang skena hardcore/punkrock di tempat kamu?
Skena disini bagus, berjalan menurut keyakinannya masing-masing. The Suse tidak tergabung dengan skena manapun. Kami berteman dengan semua skena disini, mulai dari hc/punk/metal. Kami memilih untuk tidak terikat dan bebas saja ikut sana sini.

The Suse sering manggung?
Tidak, dalam waktu 2 tahun ini kami hanya bermain tidak lebih dari 10 kali.

Apa ya rencana The Suse seterusnya?
Project selanjutnya kami akan split demo dengan Nerv (Wuppertal-Germany) yang akan kami rilis sendiri secara kolektif.

Last words?
Kami membuka pertemanan dengan siapapun, selama tidak merugikan satu sama lain. Terima kasih untuk Noise From Hell Zine!


Khamis, 12 Oktober 2017

Interview: ROUND OFF


“Pathetic Crisis” merupakan judul demo pertama dari Round Off, band Oi! dari Kuantan. Demo CD ini keseluruhannya memuatkan sebanyak 9 buah lagu, dikeluarkan pada penghujung September 2017 yang lalu. Round Off mungkin pada dasarnya boleh dilihat sebagai sebuah nama baru, akan tetapi beberapa anggotanya adalah gabungan bekas ahli band The Stompers yang pernah bergiat cergas di awal era 90an dahulu. Tanpa membuang masa, berikut diadakan sebuah temubual bersama pemain dramnya saudara Ajeeb mewakili pihak Round Off.

Apa khabar Round Off. Camne sambutan dan respon pendengar ke atas demo “Pathetic Crisis”?
Alhamdulillah.. Berkenaan persoalan respon dan sambutan demo CD “Pathetic Crisis”.. kami sukar untuk nyatakan kerana buat masa sekarang demo CD ini kami edarkan secara percuma dan dana adalah datang dari line-up Round Off sendiri.. jadi dengan kekangan dana ini, edaran masih lagi dibuat melalui rakan-rakan terdekat untuk diedarkan kepada semua berdasarkan kemampuan yang ada buat masa ini.. mungkin masih ramai yang belum dapat demo CD kami.. Walaubagaimanapun.. untuk memastikan kesemua yang berminat dengan track-track kami boleh mendengarnya.. kami telah mengambil inisiatif dengan meng‘upload’ keseluruhan track-track ke dalam Youtube dan link bagi keseluruhan track boleh didapati dari FB Page rasmi kami ‘Round Off Mania’.. berbalik kepada sambutan dan respon pendengar buat masa ini.. kami masih belum lagi menerima komen-komen yang negatif dan dengan ini kami harap ianya boleh diterima dengan hati yang terbuka.


Aku tengok banyak lagu ada dalam demo tu.. masa bila lagu-lagu tu ditulis dan dirakam? Round Off sendiri puashati dengan penghasilan demo tersebut?
Kesemua lagu di dalam Demo CD “Pathetic Crisis” ditulis dan dirakam dalam tahun 2017. Lirik-lirik lagu adalah ditulis oleh line-up Round Off dan sahabat-sahabat seperjuangan yang lain.. Hendra Revolt Squads, Deriq Stompers, Kong Stompers dan Zuraimi. Berkenaan persoalan adakah kami sendiri berpuashati dengan demo CD kami.. secara amnya kami berpuas hati dan syukur kerana diakhirnya demo CD ini berjaya disiapkan.. memang diakui, masih terdapat banyak kekurangan dalam demo CD kami tetapi inilah yang termampu dari kami buat masa ini.. apa yang penting bagi kami adalah hasil yang ikhlas dari kami untuk semua.. dan diharapkan ianya dapat diterima oleh semua walau dalam keadaan mempunyai kekurangan.

Jelaskan lebih lanjut kepada pembaca tentang jenis muzik Round Off dan apa influence utama korang ni?
Round Off membawa muzik Street Oi! / Punk.. influence kami lebih kepada band-band British Oi! dan Punk era 70an seperti Sham 69, Cockney Rejects dan The Cocksparrer.

Kenapa pilih untuk rakam dan muatkan lagu cover ‘Cum On Feel The Noize’ dari The Slade?
Tiada apa-apa tujuan spesifik kenapa kami masukkan cover track ‘Cum on Feel the Noize’ dari The Slade melainkan kerana lagu itu sendiri di mana tajuk lagunya pun seolah menyeru pendengar untuk menghayati apa yang ada pada kami.. apa yang disampaikan dan juga sekadar hiburan semata mata.


Apa mesej-mesej yang ditulis dan nak disampaikan nenerusi lirik-lirik lagu korang?
Lagu-lagu kami tiada mesej spesifik.. terpulang kepada pendengar sendiri untuk menilaikan apa yang didengar.. cuma lagu-lagu kami sekadar karya yang menyatakan apa yang kami rasa dan hadapi, apa yang kita semua lalui dalam kehidupan dunia hari ini, sistem pengurusan dan pentadbiran hari ini.. dan juga seruan agar kita sentiasa bersatu.. juga terdapat lagu yang menceritakan kisah yang kami lalui di awal perjalanan scene pada era awal 90an di Kuantan, Pahang.

Apa pendapat korang tentang nazi punks / nazi skinheads?
Pendapat kami tentang Nazi Punks dan Nazi Skinheads... terpulang pada individu yang memegang prinsip itu sendiri.. kerana mereka yang memegang prinsip itu sendiri semestinya lebih arif tentang prinsip yang mereka pegang, memang mempunyai pandangan yang berbeza-beza dalam setiap sesuatu terutama sekali apabila berkaitan dengsn prinsip.. cuma apa yang perlu kita ingat adalah kita perlu tahu di mana limit kita, di mana cut off point kita.. apa yang sebenarnya yang kita mahu dan apa sebenarnya yang kita cari.. dan yang penting sekali kita perlu tahu di manakah rujukan sebenar kita.

Dah banyak main gig? Share sikit gig-gig paling best korang pernah join?
Performance pertama Round Off adalah di South East Asia Street Music Festival di Cherating, Pahang pada 31st December 2016... tapi mungkin ramai yang tidak tahu kerana pada masa itu kami perform sebagai gantian band Revolt Squad.. Festival masa tu amat meriah dan sambutan dari crowd juga amat baik.. sahabat-sahabat kami dari band-band lain seperti Rough and Cause, Roots N Boots, Rentenir (Indonesia), Generation 69 (Singapore) dan beberapa band-band local yang lain turut serta perform dalam street music festival tersebut.. dan semestinya festival tersebut merupakan gigs yang paling memberi kenangan kepada kami.. Selain dari South East Asia Street Music Festival kami juga masih aktif dan kebiasaannya perform di gig-gig sekitar Kuantan.


Mungkin ramai gak nak tau sejarah penubuhan Round Off dan siapa-siapa line-up band ni.. so ceritakan sikit?
Line-up Round Off terdiri dari JZ Cancer (lead guitar), Ejat Stompers (bassist), A.K (2nd guitar), Ajeeb Stompers (drummer), Meo Stompers (vocalist) dan Zai (2nd vocalist). Sejarah penubuhan Round Off.. boleh dikatakan di sini yang Round Off telah ditubuhkan pada tahun 2016 di mana ianya merupakan kesinambungan sebuah band The Stompers iaitu sebuah band Oi! yang aktif bermain di gig-gig sekitar Pahang juga di luar Pahang pada era awal 90an.. tidak dinafikan line-up Round Off sekarang adalah terdiri dari gabungan beberapa orang anggota The Stompers dan juga beberapa sahabat-sahabat seperjuangan yang lain.. semua line-up Round Off berasal dari Kuantan, Pahang... pada asalnya kami pernah terfikir untuk terus membawa nama The Stompers tetapi setelah memikirkan dengan lebih mendalam.. kami membuat keputusan untuk mewujudkan nama lain bagi menghormati nama The Stompers yang mempunyai sejarah dan kenangannya yang tersendiri.

Korang tengok scene Oi! kat negara kita sekarang ni camne?
Pandangan kami terhadap scene Oi! di negara kita masih aktif, masih meriah dan masih releven.

Okay ada apa lagi nak bagitau sebagai penutup kata?
Akhir ucapan.. kami ingin mengambil kesempatan untuk mengucapkan jutaan terima kasih kepada semua yang mampu menerima kami dan sentiasa memberi sokongan secara langsung atau tidak langsung.. Strength thru unity, fight the real enemy.. Assalamualaikum.


dengar lagu-lagu yang lain di:

Jumaat, 6 Oktober 2017

Interview: CONTUSIÖN


I know this band from Cali, Colombia since their debut “Arroja la Bomba” EP 2014. “Energetic, destructive and forceful bound of Hardcore Punk aggressions.” is among what I wrote on my review for the EP [read more here]. Since then, Contusiön grows up and much better in “Invaden y Matan” (2016) and recent release “Demo-17”. Consists of Jhon (vocal), Mauro (drums), Annalisa (vocal), Marvin (bass) and Oscar (guitar) [refer the above photo], Contusiön is a Hardcore Thrash/Punk band that must always in your mind and looks forward for them. They are extreme noise from CaliHell, they are part of destruction!. Here’s an interview with their drummer (Mauro) for more about Contusiön.

Hello Contusiön. Let us know briefly history of the band and the current line-up?
The band started around 2010 with 3 members, the only original member is Oscar, the guitarist, they began very influenced by d-beat, but when two of the original members left the band, Oscar decided to reform the band with a new concept but whith the same name, so nowadays is more hardcore, crust, with thrash and some grindcore influences. Today we have five members; Oscar (guitar), Jhon Jairo (screams), Annalisa (screams), Marvin (bass) and myself, Mauro (drums).


Tell us more about your recent release “Demo-17” (2017) including the songwritings, recordings and the contents?
This demo is more aggressive, we like to play fast and very noise and we decided to do a self produced demo with a lot of tracks that we didn’t record before, there also new versions of old songs and the lyrics ares based in the fraud of religion, the capitalism in our country, the war in our country, the social and political reality of Latin America, and Oscar made all the lyrics.

How do you see the band progress in the new demo since previous releases?
With two voices is more like a disrupt sound and we like it, specially cause is a woman and a man, so sounds very cool, the most important thing is that we have a new bass player, that gives more power to the songs and we try to play more fast. We also try to put more work in the creation of songs and incorporate more stuff.


Say something about “Arroja la Bomba” (2014) and “Invaden y Matan” (2016)?
Arroja la Bomba is a ep made by a friend of us, he has all the equipaments in his house and was more punk, more raw, very simple but powerful songs, was the only record with our previous bassist before he left the band, the second ep (Invaden y Matan) is more professional, the sound is more clear and has more complex and long songs, but the lyrics follow the same path of Arroja la Bomba ep.

How do you define the music of Contusiön? What kind of bands that influenced you?
Contusiön is speed, rage, insatisfaction with the modern society, we are like “play fast or die” but we also like density, we have a couple of slow songs but our line is hardcore, punk, grind, some metal, all the crap that we like and enjoy that’s our influence.


Since you’re singing in your language, what were written for the lyrics?
We can’t escape the reality of Colombia as a country and we want to spread the message in our language, the songs are about war and the desolation of the victims, the religion, the mass media, we also have a lot of interest in our ancestors as a culture where the money wasn’t the only thing that matters.

Being DIY is so powerful. How DIY benefits you?
Basically we do all by ourselves in every aspect, rehearsals, demos, t-shirts, etc, it’s all by ourselves, so that’s all.



Please describe Contusiön while on stage?
On stage we try to give people the energy we have, all the anger and the fast riffs with fast drums, it’s the moment when all the rehearsals are materialized in a fuckin noise with the stench of the war.

Share with us some good things about hardcore/punk in Cali?
The punks in Cali are not too many, and that makes union and friendship. There are no great divisions between the punk group, there are only a variety of musical styles converging within the movement. For example punk hardcore, crust, metalpunk, power violence, grindcore, etc.


Thanks for replying. Any last words?
We just want to thank all those who have supported us by sharing and buying our material, and have made us leave our city to make our noise known. Fuck religion, fuck institutions, fuck the police and politicians, support the underground noise and open their minds, kill the divides within the DIY noise, appreciate their nuances. We will continue working on new songs with the corrosive style that characterizes us so prepare your dirty and stinking ears!